Articles

Kisah Nyata - Haruskah Aku Menyerah?

Rab, 29 Feb 2012 07:02   |   3525 Read   |   Comments (3)

Di suatu sore yang cerah, seorang bapak berjalan melalui lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Bapak dari lima orang anak ini baru saja mendengar vonis dokter untuk istrinya. Sang istri terserang virus Herpes. Sebelumnya, dia telah mengidap leukemia. Sel darah merah yang jumlahnya terus menurun (drop) mengharuskannya menerima transfusi darah.

Berulang kali istrinya keluar masuk rumah sakit untuk proses ini. Dan penyakit Herpes yang sekarang dideritanya, berasal dari darah transfusi yang tanpa diketahui telah terkontaminasi sejenis virus yang menyerang syaraf dan melumpuhkannya. Berita inilah yang membuat pak Sutomo kalut. Wajahnya tampak murung dan penat. Sudah beberapa hari ini dia harus menjaga istrinya di rumah sakit.

Pikirannya dibayangi oleh biaya baru yang akan dikeluarkan, pastilah sangat besar. Sedangkan kelima anaknya masih membutuhkan biaya untuk melanjutkan studi. Tiga orang anaknya sudah kuliah, yang keempat SMA dan yang bungsu masih duduk di bangku SD. Anak yang pertama berusaha untuk membantunya dengan bekerja tambahan di malam hari, demikian juga dengan yang kedua dan ketiga. Tetapi usaha mereka masih jauh dari mencukupi jumlah pengeluaran yang harus dibayar.

Biaya rumah sakit, dokter, obat dan bahkan terakhir istrinya membutuhkan perawatan tambahan, berupa oksigen dan harus dibaringkan di kasur khusus. Bagian punggung yang terinfeksi virus semakin luas, karena itu harus dibantu dengan kasur air untuk membuat istrinya lebih nyaman. Selain itu obat untuk mengantisipasi virus ini juga khusus dan mahal. Setiap ampulnya berharga jutaan rupiah, dan harus diinjeksi beberapa kali dalam sehari. Hutangnya semakin menumpuk. Hari-hari yang kelabu bagi keluarga pak Sutomo. Sudah dua minggu istrinya dirawat di rumah sakit tanpa menunjukkan perkembangan berarti.

Berada dalam titik kehidupan seperti ini, membuat pak Sutomo harus membuat keputusan. Dia memilih untuk bertahan hidup, dan bertekad untuk tidak menyerah dan putus asa. Pak Sutomo tahu Tuhan tidak membiarkan pencobaan-pencobaan yang melebihi kekuatannya. Dia sadar harapan selalu ada, dan hari esok pasti lebih baik. Pasti ada jalan keluar bila dia tidak berhenti berharap.

Hari ini, 20 tahun setelah istrinya meninggal, pak Sutomo masih seorang pria yang tegar. Sekalipun istrinya tidak tertolong karena virus telah menyerang otaknya, namun pak Sutomo bersyukur telah memberikan yang terbaik untuk istrinya. Kini dalam sisa hidupnya, ditemani anak-anak dan cucu-cucunya, pak Sutomo tetap berkarya. Selama matahari masih bersinar, tak berhenti perjuangannya menghadapi hidup yang memiliki beragam kisah..

Dikisahkan kembali oleh ibu S.T

Beri Komentar

*
*